Osteoporosis: Faktor risiko, Fraktur Kompresi Vertebral dan Pencegahannya
Osteoporosis atau tulang keropos adalah penyakit serius yang menyebabkan kehilangan kepadatan tulang, memngecilkan volume tulang atau keduanya. Saat kepadatan tulang berkurang, tulang menjadi lebih rapuh dan hampir patah. JIka anda berusia 50 tahun atau lebuih tua, anda sebaiknya membicarakan hal tersebut kepada dokter untuk melakukan tes kepadatan tulang.
Walaupun osteoporosis dialami oleh pria dan wanita, hasil penelitian menunjukkan perbandingan antara pria dan wanita berusia 50 tahun atau lebih 1:2 mengalami patah tulang disebabkan osteoporosis. Dua puluh persen manula patah di bagian panggul akan meninggal dalam waktu satu tahun dengan masalah yang berhubungan dengan patah tulang itu sendiri atau melakukan pembedahan
Faktor Risiko
Banyak macam faktornya, yang tidak dapat dikendalikan dan yang dapat dikendalikan. Faktor-faktor ini akan menentukan perkembangan osteoporosis. Anda sebaiknya membicarakan masalah ini pada penyedia layanan kesehatan anda tentang factor risiko anda dan anda dapat membuat rencana untuk melindungi tulang anda.
Faktor yang tidak dapat dikendalikan
1.Berumur 50 tahun lebih
2.Wanita
3.Menopose
4.Riwayat keluarga untuk osteoporosis
5.Berat badan kurang/kecil dan kurus
6.Riwayat tulang belakang sebelumnya
Faktor yang dapat dikendalikan
1.Kurang asupan kalsium dan vitamin D
2.Kurang asupan nutrisi dari buah dan segar
3.Konsumsi terlalu banyak protein, sodium dan atau kafein
4.Kurag gerak
5.Merokok
6.Terlalu banyak minum alcohol
7.Kurang berat badan
Ada beberapa pengobatan seperti steroid dan antacid dan penyakit, seperti beberapa gangguan autoimun, yang dapat menyebabkan kehilangan tulang dan meningkatkan risiko osteoporosis.
Fraktur Kompresi Vertebral
Komplikasi yang paling umum terjadi pada osteoporosis adalah fraktur kompresi vertebral. Pada penderita lanjut osteoporosis, fraktur kompresi dapat terjadi saat beraktifitas sehari-hari, seperti membungkuk atau mengangkat beban berat atau karena jatuh.
Vertebra adalah blok bangunan tulang belakang bersusun satu sama lain. Dengan osteoporosis blok menjadi kotak berongga. Fraktur kompresi terjadi ketika runtuhnya vertebra. Fraktur kompresi tulang belakang dapat menyebabkan kesulitan berjalan dan / atau kehilangan keseimbangan menyebabkan peningkatan risiko jatuh dan patah pinggul, atau tulang lainnya.
Gejala yang dapat diindikasikan sebagai Fraktur Kompresi
1.Mendadak, mederita nyeri punggung
2.Nyeri saat berdiri atau berjalan yang semakin memburuk
3.Nyeri saat berbaring
4.Nyeri saat membungkuk atau memutar
5.Memendek
6.Deformitas
Fraktur Kompresi Vertebral dapat mengubah bentuk tulang belakang. Salah satu bentuk deformitas adalh kyphosis namun sering disebut “punuk janda atau bungkuk”
Penanganan Fraktur Kompresi
Penanganan meliputi pengobatan, penguatan, dan ketika kasus osteoporosis semakin parah dan nyeri terus menerus, penanganan berupa pembedahan. Saat ini terdapat dua jenis penanganan terapetik dan preventif untuk fraktur kompresi yaitu vertebroplasty dan kyphoplasty. Walaupun vertebroplasty dan kyphoplasty merupakan prosedur yang berbeda, keduanya berupa injeksi bahan semen tulang (orthopaedic cement) untuk menciptakan stabilitas, menguatkan tulang belakang dan mengurangi rasa nyeri. Kyphoplasty dapat mengembalikan kehilangan ketinggian dan badan tulang
Mencegah Osteoporosis dan Fraktur Tulang
Meskipun faktor risiko, osteoporosis adalah penyakit tulang yang dapat dicegah. Pencegahan dinulai dengan konsumsi diet seimbang vitamin dan mineral termasuk jumlah kalsium dan vitamin D yang sesuai, latihan harian dan menerapkan gaya hidup sehat misalnya tidak merokok. Juga multivitamin yang mengutakan tulang.
Source
1. National Osteoporosis Foundation. www.nof.org. Accessed March 7, 2014.
Surabaya Spine Clinic
Klinik Tulang Belakang
Siloam Hospitals Surabaya
Surabaya, Jawa Timur Indonesia
Hotline 0822 3322 7788