MAKE A RESERVATION
Home > Articles & Publication > Teknik Baru Operasi Spine, PELD

Teknik Baru Operasi Spine, PELD

by. Admin
21 June 2018
Teknik Baru Operasi Spine, PELD

Roy, 35 tahun, mengalami gangguan nyeri punggung , awalnya ia tak terlalu ambil pusing. Terlebih, gangguan itu biasa diatasi dengan pertolongan tukang urut. Jadi, tiap kali nyeri pinggangnya kambuh, dia pergi ke tukang urut langganan. Lebih dari enam bulan ia mengalami kondisi tersebut. Namun, awal Mei lalu, ada yang berbeda. Nyeri pinggangnya yang kambuh tak kunjung reda meski sudah berulang kali diurut. Bahkan, nyeri itu menjalar hingga ke tungkai kanannya. Ia pun mencoba berbagai obat-obatan serta fisioterapi.

"Tapi sampai dua bulan, enggak sembuh juga. Rasanya sangat mengganggu, terlebih ketika itu menjelang puasa, pekerjaan saya sedang padat-padatnya karena harus memastikan semua barang terkirim sebelum libur lebaran," ujar pegawai di salah satu perusahaan ekspedisi itu pada wawancara pribadi oleh tim spine clinic Rumah Sakit Siloam Surabya, pekan lalu. Ketika memeriksakan diri ke Spine Clinic, ia menjalani pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI). Hasilnya, ia didiagnosis mengalami herniated nucleus pulposus (HNP) alias penyakit saraf terjepit.

"Dari penjelasan dokter dan melihat gambar hasil MRI, saya jadi tahu kenapa urut, obat, dan fisioterapi tidak akan bisa menyembuhkan nyeri saya. Jelas terlihat, saraf tulang belakang saya terjepit. Itu yang bikin sakit," terang Roy. Karena itu, ketika dokter menjelaskan bahwa solusinya ialah operasi, ia pun memahami. Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya ia memilih prosedur operasi dengan teknik terbaru. "Meski lumayan mahal, tapi banyak keuntungan yang saya dapat. Operasinya singkat, cuma sekitar 30-an menit. Habis operasi tidak perlu rawat inap. Rawat inapnya malah sebelum operasi karena harus ada beberapa pemeriksaan awal," paparnya. Sesudah operasi, ia pun lega karena nyerinya tak tak lagi muncul.

Pada kesempatan lain, Dr. Eko Agus Subagio, dr. Sp. BS(K) Spine, menjelaskan operasi penanganan HNP terus berkembang. Yang terbaru ialah teknik percutaneous endoscopic lumbar discectomy (PELD) seperti yang diterapkan pada Roy. "Operasi penanganan HNP awalnya dilakukan dengan teknik operasi terbuka dengan pembedahan, lalu berkembang teknik operasi minimally invasive (sayatan kecil) yaitu micro endoscopic discectomy (MED). Nah, PELD ini yang terbaru, dilakukan sayatan kecil, 8 mm saja," urai Eko Agus.

Sayatan 8 mm itu, lanjutnya, digunakan untuk memasukkan alat operasi yang berbentuk serupa pipa kecil. Alat itu memiliki semacam kamera yang tersambung dengan layar monitor. Dengan demikian dokter bisa melihat sasaran operasi. "Dengan alat itu dokter memotong dan mengambil tonjolan gel nucleus yang menekan saraf . Dengan begitu, saraf terbebas dari jepitan dan nyeri pun bisa reda. Ada banyak teknik bedah untuk tulang belakang. Semua tindakan akan didasarkan pada diagnosis pasien. Teknik yang mana yang tepat guna untuk mengatasi keluhan tersebut. Oleh karena itu, pemeriksaan perlu dilakukan dengan seksama untuk diagnosa yang benar sehingga mendapat tindakan yang tepat. Tindakan yang tepat akan mencegah keluhan kambuh kembali." kata Eko Agus Subagio. Biaya operasi HNP dengan teknik PELD itu berkisar Rp80 juta-Rp90 juta. Memang relatif mahal, tetapi ada banyak keuntungan yang didapat.

"Karena sayatannya kecil, tidak banyak otot yang cedera, perdarahan minimal, penyembuhan luka pascaoperasi pun lebih cepat, pasien bisa lekas produktif kembali. Bahkan, operasi ini bisa dilakukan tanpa rawat inap. Angka keberhasilannya mencapai 90%-95%," terangnya.

Dokter Eko Agus , menjelaskan HNP terjadi ketika bantalan antar ruas tulang belakang rusak sehingga gel yang ada dalam bantalan tersebut menonjol keluar dan menekan saraf. Saraf yang tertekan itulah yang memicu nyeri pinggang yang menjalar ke tungkai. "Pada sejumlah kasus, HNP bahkan bisa menyebabkan kaki sulit digerakkan," Kata Eko Agus. Mengapa bantalan antar ruas tulang belakang bisa rusak? Menurut beliau penyebabnya bisa karena trauma/kecelakaan, sering mengangkat beban berat dengan cara salah, orang yang pekerjaannya di tempat yang bergetar, terlalu banyak duduk, sering mengenakan sepatu hak tinggi sehingga tubuh kerap berada dalam posisi salah, kurang olahraga, serta merokok. Juga faktor genetik/keturunan.

"Kurang olahraga membuat otot sekitar tulang pinggang dan tulang punggung melemah sehingga mudah cedera. Adapun merokok, kebiasaan buruk itu melemahkan semua jaringan tubuh, termasuk jaringan sekitar pinggang dan punggung. Soal genetik, ada orang yang secara genetik memang lebih mudah mengalami kerusakan di bantalan antarruas tulang punggungnya," papar Eko Agus. Dengan melihat faktor-faktor penyebab HNP tersebut, langkah pencegahan yang penting dilakukan ialah menjaga postur tubuh yang benar saat duduk maupun berdiri, rutin berolahraga, dan jangan merokok.

"Olahraga sangat penting, terutama yang jenis core strengthening exercise untuk menguatkan otot-otot pinggang, punggung, dan perut." Olahraga itu bahkan wajib untuk pasien HNP yang sudah dioperasi. Karena mereka berisiko mengalami HNP lagi, walaupun risiko itu hanya 1%-2% dalam lima tahun. "Dengan core strengthening exercise, akan terbangun otot-otot perut, punggung, dan pinggang yang kuat. Otot-otot itu berperan sebagai 'korset' alami yang akan menjaga struktur tulang punggung, termasuk mencegah HNP," pungkasnya. (H-2)

Read other articles & publications:
STEROID EPIDURAL INJECTION
There are several risks associated with ep...
ACUPUNCTURE CONSIDERATION
Acupuncture is considered a safe medical ...
HEALING OF MY FATHER FROM PAIN AND SPINE
I am the son of a 60-year-old father. My ...